Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif

Krucuk .. krucuk .. begitulah bunyinya kalau kita lapar. Lalu kenapa bisa seperti itu ya?

Yup, perut manusia itu mirip terowongan panjang di dalam perut! Terowongan itu berawal dari mulut dan berakhir di anus. Terowongan itu ada yang berupa kantung besar, saluran halus dan saluran berlipat serta berliku. Kantung besar itu biasa disebut lambung, saluran halus disebut usus. Sedangkan saluran besar, berlipat serta berliku disebutnya usus besar.

Terowongan perut secara otomatis selalu bergerak dan meremas-remas. Dalam keadaan normal, terowongan perut bergerak 3-10 kali/menit. Dan gerakan itu semakin kuat, bila ada makanan yang masuk ke dalam perut. Ya, gerakan ini bisa terjadi karena adanya sinyal listrik di perut, lho khoq bisa? Sinyal ini sangat kecil seperti saat mata kita kedutan atau berkedip.

Sinyal ini disebut MMC (Migrating Myoelectric Complexes. Uniknya, MMC ini mirip radar yang tugasnya memantau ada makanan atau tidak di dalam terowongan perut. MMC akan memerintahkan untuk meremas apa saja yang ada di dalam perut, baik itu berupa makanan atau gas. Bila masih ada sisa makanan .. perut tidak akan sakit saat perut meremas-remas. Nah, jika di perut hanya ada gas, maka saat diremas-rema akan berbunyi .. krucuk .. krucuk ..

Sedangkan bila tidak ada makanan sama sekali maka perut akan meremas-remas dinding perut yang menyebabkan perut kita jadi terasa sakit! Oleh karena itu, kita harus rajin sarapan, makan siang dan malam secara teratur .. agar saat perut kita diremas-rema tidak akan sakit dan berbunyi .. krucuk .. krucuk .. hihihi ..

Semoga bermanfaat, wassalam

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Musik tidak cuma merupakan materi hiburan yang memanjakan telinga. Alunan suara yang berirama ini bisa dimanfaatkan untuk merangsang janin agar kelak menjadi anak cerdas dan kreatif. Bahkan musik bisa dipakai untuk memutar janin sungsang kembali ke posisi normal.

Sumber : Majalah Intisari Dibandingkan dengan kemampuan rata-rata anak seusianya, anak dari Ny. Ir. Catharina (30) jauh lebih baik. Ketika berusia dua bulan, anaknya sudah bisa tertawa terbahak-bahak. Di usia 3,5 bulan, sudah bisa melepas kacamata kakeknya. Bahkan, ketika umurnya menginjak empat bulan, sudah bisa bersalaman. Semua itu bukan tanpa sebab. Ketika hamil, Ny. Catharina ingat cerita orang tuanya bahwa musik klasik karya Wolfgang Amadeus Mozart bisa membuat perkembangan otak belahan kanan janin dalam kandungan menjadi lebih baik sehingga meningkatkan kemampuan afektif si anak. Dari situlah ia lalu berusaha untuk selalu mendengarkan musik klasik.

Dalam perjalanan ke kantornya, musik yang buat banyak orang terasa berat itu terus mengalun dari kaset di dalam mobilnya. Baginya mendengarkan musik klasik bukanlah kegiatan aneh apalagi membosankan karena kebetulan ia pencinta musik klasik. Ia justru terhibur di tengah-tengah kemacetan lalu lintas ibukota. Kedua belahan otak harus imbang

Mendengarkan musik klasik sebenarnya merupakan bagian dari beberapa stimulasi yang biasanya diberikan oleh ibu hamil kepada janin di dalam kandungannya. Demikian kata Prof. Dr. Utami Munandar dalam seminar "Pengaruh Mendengarkan Musik Klasik terhadap Janin dan Kehamilan", di Jakarta, November silam. Menurut guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu, stimulasi tersebut meliputi stimulasi fisik-motorik dengan "mengelus-elus" jabang bayi melalui kulit perut sang ibu, stimulasi kognitif dengan berbicara dan bercerita kepada janin, dan stimulasi afektif dengan menyentuh perasaan bayi. Makin sering dan teratur perangsangan diberikan, makin efektif pengaruhnya.

Pada janin, musik akan merangsang perkembangan sel-sel otak. Perangsangan ini sangat penting karena masa tumbuh kembang otak yang paling pesat terjadi sejak awal kehamilan hingga bayi berusia tiga tahun. Namun, menurut dr. Jimmy Passat, ahli saraf dari FKUI-RSCM, dan Isye Widodo, S.Psi, koordinator Parent Education Program RSAB Harapan Kita, Jakarta, intervensi ini haruslah seimbang. Orang tua sebaiknya tidak hanya menstimulasi kemampuan otak kiri, tetapi juga otak kanannya. Oleh para pakar, organ pengontrol pikiran, ucapan, dan emosi ini memang dibedakan atas dua belahan, kiri dan kanan, dengan fungsi berbeda.

Otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, serta pengembangan kepribadian. Sementara otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik seperti baca-tulis-hitung, daya ingat (nama, waktu, dan peristiwa), logika, dan analisis. Oleh karena itu, bila stimulasi dilakukan secara seimbang, diharapkan anak yang dilahirkan kelak tidak cuma memiliki kemampuan akademik yang baik tetapi juga kreatif. Kalau dia pintar matematika, dia juga mampu berbahasa, menulis, dan mengarang dengan baik.

Sementara itu bagi ibu hamil, musik - terutama yang klasik - bisa membebaskannya dari stres akibat kehamilan. Ini sangat baik sebab, menurut dr. Suharwan Hadisudarmo Sp.OG. MMR, stres yang tidak dikelola dengan baik, akan berdampak buruk bagi ibu yang bersangkutan dan perkembangan janin di rahimnya. Stres pada wanita hamil akan meningkatkan kadar renin angiotensin, yang memang sudah meningkat pada wanita hamil sehingga akan mengurangi sirkulasi rahim-plasenta-janin. Penurunan sirkulasi ini menyebabkan pasokan nutrisi dan oksigen kepada janin berkurang. Perkembangan janin pun terhambat.

Hambatan macam ini bisa dihilangkan atau dikurangi bila si ibu mendengarkan musik klasik, terutama karya Mozart. Memang, tidak setiapibu hamil menyukai musik klasik. Namun, kalau didengarkan secara berulang-ulang hingga hafal, akan terasa letak indahnya musik klasik ini. Keindahan dan ketenangan inilah yang membuat musik klasik itu istimewa. Cukup 30 menit sehari

Mungkin semua jenis musik, dari yang tradisional hingga modern, bisa pula dimanfaatkan untuk hal yang sama. Namun, hingga saat ini yang sudah diteliti dan menunjukkan hasil positif baru musik klasik, terutama karya Mozart. Jenis musik ini terbukti efektif dalam menstimulasi perkembangan otak belahan kanan dari janin. Menurut Suzuki (1987), seperti dikutip Utami, bila anak dibesarkan dalam suasana musik Mozart sejak dini, jiwa Mozart yang penuh kasih sayang akan tumbuh juga dalam dirinya. Mendengar alunan musik yang tenang, jantung si janin berdenyut dengan tenang pula. Bahkan, setelah dilahirkan mendengarkan musik klasik juga memberi pengaruh baik bagi si bayi.

Sekadar contoh, seperti diberikan Utami, seorang bayi berusia tiga bulan, yang sejak lahir sering diputarkan musik klasik, mampu menggerakkan badannya sesuai dengan iramanya. Jika irama makin cepat menuju klimaks, gerakan bayi lebih cepat dan aktif, dan ketika musik berhenti dia menunjukkan ketidaksenangan. Sementara untuk merangsang belahan otak kiri yang bertanggung jawab terhadap kemampuan akademik, tambah Isye, musik dengan syair yang mendidik terbukti memberi pengaruh baik. "Saya menggunakan lagu-lagu anak-anak Indonesia. Itu merupakan eksperimen saya sendiri.

Nah, intervensi yang saya gunakan selama ini ternyata ada gunanya. Bayi yang dilahirkan, ketika berusia dua tahun ternyata memiliki kemampuan komunikasi pasif dan aktif seperti anak usia empat tahun. Contoh lainnya, bayi berusia tiga bulan umumnya belum ada tanda-tanda mengeluarkan kata-kata ''a-e-o''. Tapi bayi yang, ketika masih dalam kandungan, mendapat terapi musik sudah bisa mengeluarkan kata-kata itu, kemampuan berbahasanya lebih cepat," ungkapnya. Isye juga menyatakan, lagu anak-anak yang dipilih untuk terapi cukup dua tiga lagu. Musik bersyair itu misalnya lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud atau Ibu Kasur. Menurut dia, Pelangi-Pelangi merupakan lagu paling disukai. "Pada akhir lagu itu ''kan ada syair ''... ciptaan Tuhan''. Jadi sejak janin, calon anak ini sudah mengenal kata Tuhan," jelasnya. Stimulasi perkembangan otak janin ini bisa dilakukan sejak usia kehamilan 18 - 20 minggu.

Menurut Harold I. Kaplan, Benjamin J. Sadock, dan Jack A. Grebb, pada usia itu janin sudah dapat mendengar. Dia juga sudah bisa bereaksi terhadap suara dengan memberi respons berupa kontraksi otot, pergerakan, dan perubahan denyut jantung. Bahkan, pada usia itu perkembangan mental emosional janin sudah dapat dipengaruhi musik. Mendengarkannya bisa dilakukan di mana saja. Namun, untuk tujuan terapi sebaiknya dilakukan di tempat khusus untuk terapi dan dipandu oleh pakarnya. "Di tempat terapi ini akan tercipta suasana kebersamaan. Dengan kebersamaan itu, mereka bisa bertukar pengalaman dan sebagainya, sehingga saat menghadapi persalinan persiapan mental mereka sudah bagus dan rasa percaya dirinya juga bagus," jelas Isye. Di samping itu ibu hamil dianjurkan pula mendengarkan musik di rumah secara teratur.

Dalam melakukan terapi musik, ibu hamil mesti melalui tahapan relaksasi fisik dan mental sebelum memasuki tahapan stimulasi terhadap janin. "Untuk mencapai rileks fisik saya memberikan relaksasi progresif di mana ibu-ibu mengendurkan dan mengencangkan otot-ototnya, mengatur pernapasan dan sebagainya. Setelah secara fisik rileks, baru memasuki relaksasi mental. Dalam relaksasi mental, saya mengucapkan kata-kata yang bersifat sugesti dan menguatkan.

Jadi secara fisik mereka rileks, dan saya membawa mereka ke dalam suasana di mana mereka bisa melupakan semua konflik yang mereka rasakan sebelumnya. Mereka hanya berkonsentrasi untuk terapi. Pada saat diberi instruksi-instruksi untuk relaksasi, diperdengarkan alunan musik yang bisa membangkitkan perasaan rileks.


Wassalam,
sumber: http://id.shvoong.com/humanities/1640982-anak-cerdas-dan-kreatif-berkat/


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif

Liputan6.com, Florida: Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peniliti dari Universitas Florida menemukan efek berbahaya dari pasta gigi dan sabun. Penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan triclosan dalam pasta gigi, jika digunakan secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan otak pada janin.

Seperti dilansir Zee News, Rabu (1/12), triclosan yang sejak 50 tahun lalu dipercaya dapat membunuh bakteri, ternyata dapat menghambat aliran darah ke rahim. Terganggunya aliran darah yang bermuatan oksigen adalah penyebab utama terjadinya kerusakan jaringan otak pada janin.

Dalam penilitian ini, para peneliti melakukan tes pada seekor domba dan hasil tes menunjukkan terganggunya hormon estrogen pada anak domba. Hormon esterogen membantu arteri utama tetap terbuka untuk membawa darah yang penuh dengan oksigen ke dalam futus. Jika hormon ini terlalu sedikit, maka arteri itu akan menyempit dan suplai oksigen akan terhambat.

"Penelitian kami menemukan efek berbahaya dari triclosan. Saat ini kami masih belum mengetahui seberapa jauh triclosan dapat mempengaruhi kerusakan pada otak janin. Kami merasa perlu untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kasus ini," kata Pimpinan Penelitian Universitas Florida Profesor Margaret James.

Triclosan selama ini sering digunakan pada campuran pasta gigi, deodoran, sabun cuci tangan hingga cairan pembersih tubuh dan bahkan mainan anak-anak.

Badan AS yang mengurusi masalah makanan dan obat-obatan (Food and Drug Administration), saat ini melakukan penelitian ulang tentang bahaya triclosan. (zeenews/Des/MLA)

Wassalam,
sumber: http://kesehatan.liputan6.com/info/201012/309358/Awas.Pasta.Gigi.Bisa.Merusak.Otak


indosiar.com - Ketika anak balita Anda jatuh dan bagian tubuhnya membentur meja, apa yang harus dilakukan ? Memarahi anak karena tidak hati-hati ? Mengatakan meja yang nakal kepada anak dan membelanya dengan memukul meja ? Salah-salah meja akan terus menjadi objek dendam anak.

Sebagai orang tua, jika kita salah bertindak saat menghadapi hal itu, bisa berakibat fatal menjadikan anak lemah mengatasi masalah, atau dalam bahasa psikologi disebut dengan proven solving.
Mengapa ? Karakter anak yang mandiri (mampu membimbing dirinya sendiri) terbentuk sejak balita. Masa balita adalah masa anak menangkap dan mengingat perlakuan yang dilihat dan diterimanya. Saat itu, kecerdasan dan kreatif anak berkembang. Jika kita tidak memahami dan memperhatikan, salah-salah sifat anak akan jauh dari kemampuan kecerdasan dan kreatifitas.

Dalam seminar Peran Orang tua Dalam Menstimulasi Anak Cerdas Berkualitas di Rumah Sakit Harapan Kita, psikolog anak Rumah Sakit Harapan Kita Dra Anie Lurfia Perbowo mendeskripsikan kriteria anak cerdas dan kreatif ke dalam beberapa aspek. Yakni :
- Kemampuan umum
- Kreativitas
- Motivasi diri

Peran ketiganya sama penting. Meski seseorang berpotensi intelektual dan berkreativitas tinggi, namun bila dalam menghadapi tugas kurang menunjukkan motivasi maka yang bersangkutan tak akan berhasil. Sebaliknya, jika berkemampuan dan kreativitasnya dalam taraf sedang namun memiliki motivasi diatas rata-rata, maka dikatakan berpotensi.

Cerdas Versi IQ
Umumnya orang beranggapan hasil tes IQ berkaitan dengan kecerdasan. Anak ber-IQ 130 dianggap berkemampuan luar biasa dalam segala bidang. Jika anak jago olahraga namun ber-IQ taraf rata-rata, atau anak yang nilai matematikanya jeblok dan IQ-nya taraf rata-rata, maka dianggap anak bodoh.
Pemahaman seperti itu tak tepat, IQ hanya mengukur kemampuan linguistik dan logika matematika sedangkan KECERDASAN mengacu pada kemampuan problem solving.

Hasil tes IQ anak perlu dikritisi. Orang tua perlu menanyakan bisakah dan bagaimana cara mengoptimalkannya. Orangtua jangan cepat puas punya anak yang ber-IQ TINGGI lalu lupa untuk terus mendampingi dan menstimulasi anak. Sebaliknya jangan pula bersedih hanya gara-gara anak dinyatakan nilai IQ taraf DIBAWAH RATA-RATA, menganggap anak tak cerdas padahal mungkin saja belum diasah secara maksimal.

Kenyataannya IQ TINGGI tak menjamin yang bersangkutan berhasil dalam kehidupannya kelak, perannya hanya sebesar 20%. Banyak contoh yang membuktikan hal tersebut antara lain orang yang berIQ TINGGI, namun belum tentu mampu berempati atau melakukan tindak pidana.
Lantas bagaimana menilai anak memiliki kreatifitas atau tidak, jika kemudian angka yang didapat kurang dari 70 saat test IQ.

Untuk mengetahui apakah anak kita kemudian mampu menjadi kreatif, Spesialis Anak RS Harapan Kita DR.SC. Utami Munandar lebih memilih anak melakukan uji analisa CQ (Creativity Quotient), EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient). Secara harfiah, untuk menggambarkan arti kreativitas sesungguhnya. "Arti kreativitas yakni sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran keluwesan, orisinalitas berfikir dan kemampuan elaborasi (mengembangkan, memerkaya, merinci) suatu gagasan atau CQ (Creativity Quotient).

Banyak kita dapati perlakuan dan tindakan anak dengan berbagai polah dan tingkah laku. Sehingga ekspresi kreativitas anak kerap menimbulkan efek kurang berkenan bagi orangtua. Orangtua melarang anak merobek-robek kertas karena takut rumah jadi kotor, atau berteriak saat anak main pasir karena takut anak terkena kuman. Padahal tiap anak memiliki ekspresi kreativitas yang berbeda, ada yang terlihat suka mencoret-coret, beraktivitas gerak, berceloteh, melakukan eksperimen, dan seterusnya. Berarti penyikapan orangtua seperti itu menghambat kreativitas anak.

Unsur emosi EQ (Emotional Quotient) dalam kecerdasan adalah bagian berikutnya yang perlu diperhatikan. Kecerdasaan emosi merupakan kemampuan mengidentifikasikan emosi, mengekspresikan perasan, mengendalikan dan menunda ledakan emosi, memahami perasaan orang lain (empati), mampu menyesuaikan diri secara sosial.

SQ (Spiritual Quotient) bukan RQ (Religious Quotient) 

RQ adalah ketrampilan dalam melaksanakan semua aturan agama yang dianutnya. SQ adalah kemampuan untuk berbuat sesuatu dengan kata hatinya yang manifenstasinya terlihat saat berinteraksi dengan sesama; misal bersikap ramah pada siapapun tanpa memandang suku atau agama misalnya.

Jika anak balita memiliki SQ paling tinggi, dia jujur mengungkapkan sesuatu beradsarkan apa yang ada di lubuk hatinya. Bila tak suka, anak balita akan bilang tak suka, tak memanipulasi jawabannya. Sejalan bertambahnya usia, SQ akan menurun, karenanya orangtua harus terus mengajarkan anak untuk mengembangkan SQ-nya, misal mengajarkan anak bahwa kakak menolong adik bukan karena dilandasi kewajibannya sebagai kakak semata, namun dilandasi nilai kasih saying pada adik.

Kemampuan IQ tinggi dengan dibarengi EQ belum cukup jika tidak dibarengi oleh SQ. Misalnya pada kasus mengerjar uang dan jabatan dengan cara mengabaikan apakah intelektual dan emosi yang digunakan telah menyingggung atau merugikan orang lain.

Jika semua unsur tadi sudah terpenuhi apakah kemudian anak sudah bisa dibilang sempurna ?

Pakar Sosilog anak DR Howard Gardner dalam riset yang dilakukannya mendapati adanya kecerdasan anak yang majemuk. Dalam kesimpulannya, tidak ada anak bodoh dan pintar. "Yang ada anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan" ujarnya.
Sikap dan pengetahuan orangtuanyalah yang menentukan apakah potensi kecerdasan anak akan berkembang atau justru padam.(Her/Ijs)

sumber : http://www.indosiar.com/ragam/73517/mengukur-kemampuan-kreatifitas-anak



KOMPAS.com - Menghadapi balita yang susah makan memang tidak mudah. Padahal, aksi "tutup mulut" yang dilakukannya sering membuat cemas para ibu mengingat pada periode tumbuh kembangnya anak membutuhkan asupan yang bernutrisi. Agar balita tidak kekurangan gizi, para ibu boleh memberikan susu yang memang kaya zat gizi.

"Susu dapat digunakan sebagai alternatif pelengkap kebutuhan kalori, vitamin dan proteinnya," kata Ida Ruslita Amir, M. Kes dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) pada Launching Susu Kental Manis Frisian Flag Gold, (14/07/10) di Jakarta.

Setiap orang tidak terkecuali anak-anak membutuhkan asupan gizi seimbang. "Asupan gizi seimbang terdiri dari makro nutrien, yang meliputi karbohidrat, lemak, protein dan mikro nutrien yang terkandung dalam vitamin dan mineral. Vitamin dan mineral difungsikan sebagai zat pengatur dan anti oksidan," kata Ida.

Orangtua juga bisa menyiasati anak yang susah makan dengan memberikan alternatif pengganti. Misalnya jika anak tidak mau makan nasi, berikan mi atau roti. Bila anak tidak menyukai susu, berikan makanan olahan dari susu, seperti puding, es krim, atau keju.

Kendati demikian, susu, terutama susu kental manis sebaiknya dikonsumsi anak di atas umur satu tahun karena metabolisme tubuhnya telah dapat menerima makanan selain ASI. Bayi hingga ia berusia satu tahun difokuskan untuk minum ASI.

sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/2010/07/15/09134156/Anak.Susah.Makan..Boleh.Diganti.Susu
image: SHUTTERSTOCK


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Tentunya Anda sudah seringkali dan cukup familiar dengan apa yang dikatakan sebagai saingan terbesar IQ (kecerdasan akal), yaitu EQ (kecerdasan emosi). IQ tinggi yang dimiliki oleh seseorang, tidak akan berkembang dengan baik dalam kehidupan sosialnya apabila tidak didukung juga dengan EQ yang bagus.

Begitu juga halnya dengan buah hati Anda. Jika Anda tidak yakin mengapa EQ menjadi sebegitu pentingnya bagi perkembangan dan kehidupan anak, coba lihat sekeliling Anda. Pernahkah Anda menemui orang yang sebegitu pandainya tetapi dalam kehidupan social ia justru tampak jauh tertinggal. Jangankan teman baik ataupun membangun relasi dan network, untuk berinteraksi dengan orang lain pun sepertinya adalah hal yang aneh baginya. Sayangkan, kepandaiannya menjadi sia-sia belaka.

Sebagai orang tua, toh Anda perlu sadari bahwa jika si anak cukup cerdas emosinya, maka kemungkinan ia untuk hidup bahagia dan sukses akan terus meningkat. Kami ingin berbagi beberapa cara untuk mengembangkan kecerdasan emosi si kecil kesayangan Anda¦

Beri contoh teladan
Anak sudah pasti akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Mereka mencontoh cara Anda menghadapi dan menyelesaikan permasalahan, melihat apakah Anda bisa menyadari apa yang Anda rasakan dan seperti apa reaksi Anda terhadap perasaan orang lain.

Jangan ragu berkata TIDAK
Tidak semua keinginan anak harus dipenuhi. Mengucapkan kata tidak atau menolak apa yang diminya olehnya akan membuat ia belajar ntuk mengatasi kekecewaan dan mengontrol emosinya sendiri. Kebiasaan mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah tidak akan membuatnya bahagia, malah akan membuatnya lemah dan manja. Tapi ingat, jangan berlebihan dan terlalu pelit untuk bilang IYA.

Ajari tanggung jawab
Ajari si kecil untuk bertanggung jawab sejak dini. Anak yang terbiasa melaksanakan tugas rumah tangga sejak dini akan cenderung lebih bahagia dan sukses saat dewasa. Ini dikarenakan ia telah dibiasakan untuk menyadari keberadaan dan perannya yang sangat pentig dalam keluarga. Si kecil juga perlu mendapatkan penghargaan setimpal dengan apa yang sudah susah payah dilakukannya.

Awas pengaruh media
Jangan biarkan buah hati Anda dibesarkan dan diatur oleh media. Biarkan ia bermain dengan bebas, dan jangan biarkan ia menghabiskan lebih banyak waktunya di depan layer televisi atau computer. Justru dengan bermain dengan bebas di luar bersama teman-temannya, ia akan mengembangkan ketrampilannya menyelesaikan masalah dan kreativitasnya dengan baik.

Jangan hanya menjadi ‘juri’
Belajarlah untuk mengenali perasaan tanpa harus memberikan penilaian. Misalnya, jika anak menangis, tanyakan padanya mengapa merasa sedih. Ini akan lebih efektif dibanding dengan menyuruhnya berhenti menangis. Justru dengan menekan apa yang dirasakannya malah akan membuat perasaan tersebut terpendam dan mengerak.

Pandangan positif
Apa yang Anda pikirkan adalah apa yang nantinya akan terwujud nyata. Jangan anggap buah hati Anda sebagai masalah. Bila iya, maka keluarga Anda juga akan menemui banyak masalah. Jangan berpikiran negativf bahwa ia adalah sosok yang nakal, karena ia akan menjadi seperti yang ada dalam pikiran Anda nantinya. Kembangkan kecerdasan si kecil dengan menganggapnya dan berpikiran positif bahwa ia adalah sosok yang luar biasa dan mampu mengatasi masalahnya.

Semoga bermanfaat, wassalam
Sumber: hanyawanita.com


Assalamualiakum wr wb, salam cerdas kreatif.
Beberapa orang tua mengeluhkan betapa susahnya menasehati anak-anaknya? Padahal semua itu akan menjadi mudah bila kita sebagai orang tua tahu cara yang tepat untuk menasehati anak.

Yups ... berikut ini adalah cara memberikan nasihat yang tepat pada anak (saya intisarikan dari http://tanggapustaka.com/):

1. Mulai dengan pertanyaan dan bukan pernyataan.
Misalnya anak kita pulang telat dari waktu yang ditentukan. Sebaiknya mulailah dengan pertanyaan, “Eh anak mama… habis dari mana kok baru sampai?” Jangan mulai dengan, “Kamu pulang terlambat, main dulu ya…?!”

2. Jangan paksa apabila anak belum ingin bicara.
Tiap anak memiliki tipe yang berbeda. Ada anak yang ingin langsung ditanya dan menjelaskan saat itu juga. Ada tipe anak yang ingin diam, istirahat bersih-bersih badan dulu, baru setelah merasa nyaman mau ditanya. Ada juga anak yang ingin kita duduk di sampingnya, kemudian dia bicara sendiri sebelum ditanya. Hal ini penting sekali untuk diketahui agar tidak ada yang merasa disakiti antara orangtua dan anak. Jika kita berhasil mengetahui ciri masing-masing anak, pasti kita akan bisa mengajaknya untuk berdialog.

3. Tugas kita adalah hanya bertanya dan mendengar saja.
Pada saat anak beranjak dewasa, ubahlah cara mendidiknya. Jangan samakan dengan cara mendidik saat anak masih di bangku TK atau SD. Kasus terbesar dan sering terjadi antara orangtua dengan anaknya adalah tidak menyadari bahwa anak sudah beranjak dewasa.

Kondisi anak yang sudah beranjak dewasa cenderung lebih membutuhkan pola asuh yang lebih mengakomodasikan kepentingan anak, seperti ingin mengambil keputusan sendiri, bukan mematuhi apa yang diputuskan oleh orangtua. Ini sangat bagus karena anak akan mampu mengambil keputusan sendiri saat ia berada jauh dari orangtuanya.
Jadi, tugas kita setelah bertanya pada saat yang tepat adalah mendengar dan merespon secara positif. Hal itu untuk menunjukkan bahwa kita tidak hanya mendengar, melainkan “menyimak” dan merespon dengan baik ceritanya.

4. Bersabarlah untuk terus mendengarkan, jangan bicara, berkomentar, atau menasihati sampai anak meminta Anda berbicara.
Mungkin bisa 15 menit, 30 menit, atau 2 jam anak kita bercerita, jangan sekali-kali Anda bosan untuk mendengarkannya. Kapan saatnya boleh berbicara? Saat anak Anda sudah mengeluarkan kalimat, “Oh iya Ma, gimana Ma… menurut Mama bener gak sih aku?” atau “Oh iya Ma, menurut Mama, mestinya aku harus bagaimana…?” atau pertanyaan anak lainnya agar Anda nemberi pendapat. Apabila anak sudah puas berbicara dan sudah mengeluarkan kalimat semacam itu, telinga dan hatinya sudah siap dan terbuka lebar untuk menerima masukan dari kita.

5. Sampaikan nasihat dalam bentuk metafora atau cerita pengalaman masa lalu.
Jangan terpancing untuk memberi nasihat langsung. Akan sangat baik jika menggunakan sebuah cerita yang menggambarkan pengalaman kita atau orang lain yang mirip dengan kasus yang dialami oleh anak kita. Ceritakan yang detail tanpa bermaksud untuk menyindir. Kemudian, jelaskan hikmah dari kisah yang Anda ceritakan. Sisipkan nasihat-nasihat Anda yang sesungguhnya dalam hikmah cerita tersebut agar anak tidak menyadari bahwa sebenarnya ia sedang dinasihati.

6. Akhiri pembicaraan dengan membiarkan anak menentukan pilihan yang terbaik bagi dirinya.

7. Jangan risaukan pilihan atau keputusan anak.
Anda tidak perlu takut atau risau akan pilihan dan keputusan anak. Jika anak salah dalam memilih atau memutuskan, itu sebenarnya bagian dari proses belajar dan pendewasaan mental anak. Ingatlah, tugas orangtua adalah bukan membuat anak tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan anak bisa belajar dari kesalahannya atau tidak mengulangi kesalahan yang sama yang pernah dibuat oleh orang lain.

Semoga bermanfaat, wassalam