Memperingati Hari Pendidikan 2 Mei 2011, hari ini.

Seorang bocah berjalan dengan langkah gontai di lampu merah Simpang Siur, Kuta. Tiap mobil yang datang dari arah Sanur ini ia dekati. Tangannya menengadah minta belas kasihan. Ada yang memberikan uang, ada yang tidak. Raut wajah bocah itu datar. Tak ada kesan sumringah saat diberikan atau mesem jika tak diberikan.

“Kamu tidak sekolah?” tanya seorang pengemudi saat si bocah itu mendekati mobilnya. Jika disesuaikan dengan waktu, seharusnya bocah yang usianya sekitar 12 tahun ini bersekolah di SD. Si bocah menggelengkan kepala. Tak ada kata-kata yang dikeluarkan. Ia hanya mengandalkan gelengan kepala untuk menegaskan dirinya memang tak bersekolah.

Ketika ditanya dimana orangtuanya, ia juga menggeleng. Seolah tahu akan ditanya-tanya lagi, ia memilih meninggalkan mobil dan mencari mobil lain yang bersedia memberikan sedekah. Itu hanya potret kecil, ternyata di Bali ada anak jalanan yang tak bersekolah.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali A.A. Anom Wartawan mengatakan, jumlah anak jalanan riil yang tercatat 44 orang. “Tetapi, mereka ini mobilitasnya tinggi. Kadang di lokasi A, besoknya di lokasi B. Jadi ada kemungkinan jumlahnya lebih dari itu,” tandasnya.

Anak-anak jalanan ini memang perlu mendapat perhatian. Apalagi jika usia mereka usia sekolah. Kalau ini dibiarkan, mereka tidak akan pernah mengenyam dunia pendidikan. “Kami akui saat ini belum punya program untuk memberikan pendidikan kepada anak jalanan ini,” kata mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja Bali ini.

Walaupun belum ada program dari pemerintah, ternyata ada lembaga sosial di Bali yang peduli dengan pendidikan anak-anak jalanan. Lembaga bernama Yayasan Peduli Kasih Anak (YKPA).
“Kami ingin memberi kontribusi positif dalam mengatasi masalah-masalah sosial dengan mendirikan yayasan ini. Kami ingin anak jalanan juga mendapat pendidikan. Ternyata, memang mereka mau sekolah. Selama ini kendalanya, mereka disuruh berkeliaran atau menjadi pengemis untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah. Ada juga yang dipaksa orangtuanya untuk mengemis. Ketika disekolahkan mereka malah senang.” ungkap Putu Etiartini, ketua YKPA.

Perempuan asal Tabanan ini mengatakan pihaknya menampung 21 anak jalanan. Mereka disekolahkan, diberikan keterampilan agar punya modal untuk mengarungi kehidupan dan bisa hidup layak. “Dulu kami pernah buat sekolah pantai. Kami lakukan di daerah Legian. Anak-anak jalanan yang ada di Kuta dan Legian kami kumpulkan lalu mereka kita ajak belajar bersama di pantai. Belajar membaca, menulis, dan berhitung. Tetapi, sekarang sudah tidak jalan lagi. Kami kesulitan mencari lokasi,” tandasnya.

Dua anak jalanan yang ditampung di YKPA adalah Jeklin (8) dan Pika (12). Jeklin berasal dari Pedahan, Karangasem. Dulu ia menggelandang di pantai Kuta sembari menjual gelang. “Saya cuma ikut-ikutan saja, diajak teman-teman. Orangtua juga jualan. Lalu bertemu dengan pengurus YKPA. Saya diajak ke yayasan, dikasi makan bahkan disekolahkan di SD 3 Padangsambian,” ujar siswi kelas 1 yang punya prestasi sebagai juara 2 di kelasnya. Di yayasan, Jeklin juga mendapat keterampilan membuat kartu nama dan boneka.

Pengalaman Pika lain lagi. Sedari kecil ia mengalami cacat di kaki kanannya hingga membuatnya sulit berjalan. Ia kerap digendong ayahnya untuk berkeliling mencari nafkah. Dalam satu hari, mereka bisa mengumpulkan uang Rp 40 ribu. “Paling apes kalau ditangkap hansip. Tetapi, kami tidak kapok, Setelah dilepaskan, kami mengemis lagi. Pernah sampai pukul 04.00 kami keliling,” ujarnya mengenang masa lalunya.

Nasib Pika beruntung. Ia bertemu YKPA dan diajak tinggal di rumah singgah milik yayasan. Bahkan Pika diajak berobat untuk mengobati kakinya. Tercatat empat kali ia menjalani operasi agar kondisinya membaik.

“Saya bersyukur bisa mendapatkan tempat yang layak dan memiliki banyak teman. Saya tidak mau mengemis lagi. Saya ingin belajar agar menjadi orang sukses,” kata Pika yang memilih ikut program Kejar Paket dan sedang belajar bermain violin. –wah.

---------------------------------------
sumber: http://pelangitujuh.wordpress.com/2010/12/11/anak-jalanan-juga-mau-sekolah/

0 comments:

Post a Comment