Liburan di rumah bisa menjadi sangat menyenangkan jika didisi dengan kegiatan bermanfaat. Liburan di rumah juga hemat karena tidak terlalu mengeluarkan biaya atau hanya mengeluarkan sedikit saja.
  • Melakukan Hobi
    Anda hobi menonton film, membaca novel atau buku, memasak, memancing atau hobi bermain futsal yang biasanya tidak sempat dilakukan waktu bekerja atau kuliah. Inilah saatnya.
  • Mencoba Hal Baru: Memasak (bagi yang tidak hobi memasak)
    Mencoba berbagai hal baru di rumah? Kenapa tidak? Banyak hal yang bisa dilakukan seperti memasak atau mencoba ketrampilan lainnya. Siapa tahu Anda menemukan bakat baru Anda seperti membuat kue misalnya? Atau ternyata masakan Ayam Semur Anda sangat enak? Bagi Anda yang terbiasa bekerja atau mahasiswa, memasak adalah hal yang tidak umum dilakukan karena menyita waktu. Nah, di liburan yang panjang ini, Anda bsia belajar memasak. Berbagai acara masak-masak di TV dapat menjadi rujukan untuk Anda dalam berkreasi di dapur. Memasak juga tidak terbatas pada perempuan, justru banyak ‘chef’ laki-laki yang terkenal. Resep bisa dicari online atau majalah. Tinggal memasak saja!
  • Bekerja paruh waktu atau magang sementara
    Bekerja paruh waku tidak identik dengan kebutuhan tambahan penghasilan, meskipun kebanyak orang bekerja paruh waktu untuk uang. Anda tipe pekerja keras dan menikmati pekerjaan? Beberapa orang menganggap bekerja itu menyenangkan sehingga bagi mereka bekerja serasa liburan. Maka ketika libur justru ingin bekerja! Hal itu sama sekali tidak ada salahnya. Ketika kesempatan untuk bekerja paruh waktu atau magang ada, tidak ada salahnya dicoba. Hal yang paling menguntungkan adalah Anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan dan mencoba pengalaman bekerja yang berbeda. Bagi mahasiswa, magang adalah kegiatan yang sangat bermanfaat karena Anda akan menghadapinya nanti setelah lulus, apalagi kalau sampai Anda digaji. Pengalaman magang juga menambah poin tersendiri di CV Anda!
Selamat menikmati liburan Anda!

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Sangat dirasakan bahwa anak bangsa setiap tahun akan merasakan kekuatiran akan UN, bukan saja siswa, guru, orang tua dan pengelola sekolah sendiri. Kekuatiran yang dialami sangat wajar karena dapat menentukan masa depan akan lebih baik atau lebih suram.

Jika disimak dengan baik, hasil UN saat ini belum memberikan manfaat bagi siswa maupun guru dan pihak sekolah selain kekuatiran dan kegelisahan bahkan keputus asahan yang terjadi, karena dengan hasil UN yang diuji akan menentukan nasib belajar selama 6 - 9 - 12 tahun disekolah.

Seolah-olah jerih payah guru dan sekolah ditentukan uji materi beberapa pelajaran yang diujikan dalam UN. Apakah kemampuan seorang anak hanya ditentukan beberapa materi uji itu saja kah ? Adilkah itu bagi siswa, bagi guru, sekolah maupun orang tua ?

Menyimak dan meneliti UN yang diadakan di luar negeri, lebih hanya pada mengukur kualitas hasil didik sekolah disetiap kota / propinsi atau secara national. Untuk dilihat / dinilai / diukur kemampaun rata-rata secara kota / daerah atau nasional. Kemudian diambil kebijaksaan pemerintah setelah dievaluasi dengan cermat, mencari solusi terbaik meliputi metode / kurikulum / sarana - prasarana untuk dibuatkan kebijaksanaan kedepan dalam meningkatkan kualitas guru / sekolah yang semuanya berdampak pada siswa.

Jadi sama sekali tidak menentukan siswa untuk bisa lulus dari ujian melalui UN. Melainkan sebagai data yang akurat kualitas sekolah, ranking sekolah disetiap kota / daerah maupun secara nasional. Dengan data yang transparan ini semua pihak bisa mencerminkan dirinya apakah sudah memenuhi syarat sebagai sekolah yang baik atau apa yang dirasa perlu untuk ditingkatkan terus.

Tanpa kesulitan yang berarti, masyarakat akan menjadi penentu mana sekolah yang baik , mana yang tidak baik. Orang tua akan dengan mudah membaca bahwa anaknya berada di ranking apa jika diukur dalam sekota, se daerah atau secara nasional.

Jika UN jelas sasarannya, maka pemerintahpun akan mudah menentukan kebijaksanaan yang tepat guna, tidak lagi menghamburkan uang yang tidak ada manfaatnya, seperti UN susulan sebagai hiburan bagi yang tidak lulus, secara psikologis tidak ada manfaat apa-apa bukan ? Karena bobotnya sudah berbeda. Semua juga tahu bahwa siswa ini lulus karena susulan, realita ini tidak bisa disembuhkan hanya karena UN susulan dan lulus, effek psikologisnya terlalu besar saat ia mendaftar universitas, hampir universits yang baik akan tertutup bagi dirinya.

Assalamualaikum wr wb, salam cedas kreatif.

Alkisah, ada seorang Ibu yang tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki ketika sedang berjalan di trotoar. "Oh, maaf," kata sang Ibu.

Jawab si pejalan kaki itu, "Maafkan saya juga. Saya tak memperhatikan Anda." Mereka berdua bersikap sangat sopan. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Namun ketika tiba di rumah, berlangsung kisah yang berbeda. Betapa berbedanya sang Ibu dalam memperlakukan seorang yang sangat dikasihinya.

Menjelang malam hari, saat sang Ibu sibuk memasak makan malam, anak perempuan satu-satunya berdiri diam di sampingnya. Ketika berbalik badan, sang Ibu nyaris saja menabrak anaknya. Karena terkejut, sang Ibu menjadi jengkel. "Menyingkir sana. Jangan berdiri di situ," kata sang Ibu dengan raut muka yang berkerut. Sang anak pun meninggalkan dapur, dengan hati yang sedikit terluka. Sang Ibu sungguh tak menyadari betapa kasar caranya berbicara tadi.

Ketika sang ibu berbaring di tempat tidur, suara hatinya berbicara, "Ketika berhadapan dengan seorang yang tak dikenal, kau bersikap sangat santun. Tapi kau malah memperlakukan anak yang kaucintai dengan kasar. Coba kau lihat lantai dapurmu, akan kautemukan serangkai bunga di dekat pintu. Itu bunga yang dibawakan anakmu untukmu. Dia memetiknya sendiri bunga yang berwarna-warni cerah itu. Anakmu berdiri diam di dekatmu agar tidak merusak kejutannya, dan kau tak pernah melihat airmatanya."

Dengan segera sang Ibu menuju dapur dan di lantai masih tergeletak bunga berwarna merah muda, kuning, dan biru. Saat itu, sang Ibu merasa sangat menyesal. Airmatanya mulai mengalir. Lalu diam-diam, ia masuk ke kamar sang anak dan dengan perlahan duduk di tepi tempat tidurnya. "Bangun sebentar, anakku," kata sang Ibu. "Bunga ini kau petik untuk Ibu?"

Sang anak tersenyum meski matanya masih terlihat mengantuk, "Aku menemukannya, di dekat pepohonan. Aku petik karena bunganya cantik, sama seperti Ibu. Aku tahu Ibu pasti menyukainya, terutama yang biru."

Mendengar jawaban itu, sang Ibu semakin merasa bersalah, "Anakku, maafkan Ibu karena Ibu sudah kasar padamu tadi. Seharusnya aku tak meneriakimu seperti itu." Sang anak menjawab, "Oh, Ibu, nggak apa-apa, kok. Aku tetap sayang pada Ibu."

"Ibu juga sayang padamu. Dan aku memang suka bunga-bunga ini, terutama yang biru."

Tanpa kita sadari, cerita di atas juga sering kita alami sendiri. Betapa kita bisa bersikap sangat sopan dan santun dalam berbicara kepada orang lain, yang baru kita kenal sekalipun, namun semua itu langsung berubah begitu kita menghadapi anggota keluarga kita, atau kerabat, atau sahabat, atau orang-orang dekat kita.

Mari, jadikan kisah ini sebagai "batu pijakan pertama" kita untuk mengubah kebiasaan tidak baik itu, agar ke depannya kita bisa lebih menjaga sikap dan perkataan kita kepada siapa pun yang kita temui.

Semoga bermanfaat, selamat berlibur :)

Penulis : Tim AndrieWongso

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

MASIH banyak anggapan bahwa anak adalah komunitas kelas bawah, yang merupakan pribadi-pribadi kecil dan lemah yang seolah sepenuhnya harus berada dibawah kendali kekuasaan orang dewasa, sehingga berakibat orangtua pun merasa berhak melakukan apa saja terhadap anak.

Paradigma yang keliru tersebut kini terus berkembang, sehingga baik di rumah maupun di sekolah banyak diajarkan bahwa anak-anak harus menurut sepenuhnya kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang lain. Sikap anak tidak boleh membantah, mengkritik, apalagi melawan tanpa adanya penjelasan secara terperinci dalam situasi bagaimana hal itu seharusnya dilakukan.

Alfie Kohn (2006) menemukan banyak kasus terjadinya tindak kekerasan, penindasan, dan perlakuan diskriminatif terhadap anak. Anehnya, sikap perlakuan tersebut dianggap sebagai suatu hal yang wajar bahwa seolah-olah mendidik anak memang harus dilakukan dengan kekerasan. Padahal mengasuh anak merupakan tugas yang teramat mulia, karena anak adalah anugerah ilahi dan amanah yang patut kita jaga.

Cara pandang yang keliru tersebut harus diubah sesuai paradigma baru dengan pola pengasuhan anak yang benar. Apabila orangtua menginginkan munculnya pribadi-pribadi unggul di masa depan, diharuskan kepada orang tua dan pendidik untuk menghentikan berbagai kekerasan terhadap anak atas nama pendidikan. Sebab pendidikan tidak identik dengan kekerasan dan tidak sekedar memberikan instruksi atau komando, melainkan harus memberikan hati dan jiwa kedewasaan yang sarat dengan cinta dan kasih sayang.

Sebagai seorang psikolog terkemuka Amerika Serikat, Alfie Kohn memaparkan bagaimana cara mencintai anak. Karena apa yang mereka lakukan (cinta bersyarat) atau mencintai anak karena siapa mereka (cinta tidak bersyarat). Cinta bersyarat artinya, anak-anak harus mendapatkannya dengan bertindak dalam cara-cara yang kita anggap tepat atau melakukan sesuatu dengan standar kita. Cinta tidak bersyarat, dalam hal ini cinta tidak bergantung pada bagaimana mereka bertindak, apakah mereka berhasil atau bersikap baik atau yang lainnya.

Mencintai anak tanpa syarat akan menghasilkan pengaruh positif dan bukan hanya sesuatu yang benar untuk dilakukan secara moral, tetapi juga merupakan sesuatu yang cerdas dan mendidik. Anak-anak perlu dicintai sebagaimana mereka apa adanya dan karena siapa mereka. Karena apabila hal itu terjadi, maka mereka dapat menerima diri sendiri secara mendasar sebagai orang baik, bahkan ketika mereka membuat kesalahan atau gagal. Karena cinta tanpa syarat ini adalah apa yang diperlukan anak-anak untuk berkembang.

Apabila orangtua menggunakan hukuman, penghargaan dan strategi lainnya untuk memanipulasi perilaku anak, mereka mungkin merasa disayang hanya jika mereka menuruti permintaannya. Pengasuhan bersyarat dapat menjadi konsekuensi dari pengontrolan, sebaliknya pengontrolan dapat membantu menjelaskan pengaruh merusak dari pengasuhan bersyarat, namun pengontrolan yang berlebihan secara umum terbukti jelas menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental anak dan keberhasilan mereka di sekolah.

Dalam pola pengasuhan anak yang "otoriter", orang tua yang seperti itu lebih sering menuntut daripada menerima dan memotivasi. Orangtua jarang memberi penjelasan atas aturan yang diterapkan. Orangtua seringkali mengharapkan kepatuhan mutlak dan menggunakan hukuman sesukanya, daripada memberi kebebasan kepada anak untuk berpikir sendiri.

Saatnya kita mengajak kepada semua orangtua agar mengubur dalam-dalam tujuan ambisius dan menuruti keinginannya dengan memakai cara pemaksaan dan kekerasan. Sebagai solusinya yaitu orangtua harus membangun hubungan yang hangat dan kuat dengan anak, serta memperlakukannya dengan hormat, meminimalkan pengontrolan dengan paksa, dan bila perlu memberi penjelasan yang mendidik.

Mengasuh anak dengan paksa maupun memberi hukuman tidak akan membuahkan hasil positif, karena ada beberapa dugaan dan alasan yang rasional berikut. Pertama, konsekuensi hukuman seringkali membuat marah siapapun yang menerima hukuman. Kedua, hukuman merupakan contoh penggunaan kekuasaan, misal hukuman fisik yang diberikan kepada anak-anak adalah kekejaman yaitu penggunaan kekuatan untuk menyelesaikan masalah.

Ketiga, hukuman pada akhirnya tidak efektif. Seperti yang ditunjukkan Thomas Gardon, "Akibat yang tidak dapat dihindari dari penggunaan kekuasaan yang terus menerus untuk mengontrol anak-anak ketika mereka masih kecil adalah bahwa Anda tidak pernah belajar bagaimana cara mempengaruhi, semakin anda bergantung pada hukuman, maka semakin sedikit pengaruh nyata yang akan Anda miliki dalam kehidupan mereka".

Keempat, hukuman mengikis hubungan orangtua dengan anak-anak. Karena dengan menghukum, penghukum dianggap sebagai musuh, dan membuat anak-anak kesulitan untuk menganggap orangtua sebagai kawan yang penuh perhatian, yang sangat penting bagi perkembangan anak yang sehat. Kelima, hukuman mengalihkan perhatian anak-anak dari persoalan yang sebenarnya dan membuat anak-anak menjadi lebih egois.

Dari kelima model hukuman tersebut di atas, penting menjadi pelajaran bagi semua orangtua, guru dan siapa saja yang terlibat dalam mengasuh dan membimbing anak. Dengan begitu, diharapkan kekerasan pada anak tidak terjadi lagi, karena salah proses pengasuhan.

Semoga bermanfaat. wassalam.

Terima kasih bila sobat-sobat sudi berbagi disini ... :)

Bila Anak Kita Demam?

Masalah anak demam sering sekali ditemukan oleh banyak orang tua. Untuk kasus ini sering sekali kami temukan permasalahannya sebagai berikut:

Ketika anak sakit, orang tua panik, dibawa ke dokter, lalu diberikan antibiotik.

1-3 hari biasanya sembuh. namun hampir tiap bulan anak tersebut sakit lagi, lalu berulang:

anak sakit, orang tua panik, dibawa ke dokter, lalu diberikan antibiotik.

Apa yang salah?

Antibiotik berfungsi membunuh bakteri. sayangnya bakteri baikpun banyak yang mati. memang sangat efektif tuk penyembuhan anak flu/demam/panas/pilek/batuk, namun karena bakteri baik juga ikut mati, imun si anak lama kelamaan menjadi rapuh. lebih rentan dan mudah sakit.

cara yang bijak ketika anak sakit adalah:

Jangan panik!
Kenalilah dahulu jenis demam agar dapat mengatasinya dengan tepat.

Demam merupakan sebuah gejala atau sinyal dari tubuh. Sinyal atau reaksi yang menandakan bahwa tubuh sedang dimasuki oleh mikroorganisme yang bisa berupa bakteri atau virus.

Bila Demam Tinggi disertai Gejala Lain.
Sebenarnya jika demam tidak terlalu tinggi (dibawah 38 derajat celcius), maka sebenarnya orang tua tidak perlu panik dan tidak perlu membawa anak ke dokter.

Apalagi jika demam anak disertai dengan batuk dan pilek. Karena jika begitu, maka sebenarnya si kecil hanya terkena virus flu, dan cara mengatasinya hanya dengan banyak istirahat.

Sering kali anak sakit hanya dikarenakan faktor kelelahan. karena si anak belum memiliki ’sensor lelah’, dia hanya tahu main main dan terus main. akhirnya kelelahan, otot tegang, fungsi organ menurun, lalu sakit.

Cara paling mudah mengatasi ini adalah, istirahatkan si anak, beri madu, jika panas berikan air kelapa hijau campur madu (ulangi 3-5 kali tiap hari), peluk (dengan memeluk panas si anak pindah ke Anda) dan jika diperlukan PIJAT si anak.

Oh ya… terkadang anak justru perlu sakit, ketika sakit imun anak Anda sedang berlatih untuk menjadi lebih kuat. jadi jangan panik, ikuti langkah di atas ditambah tunjukan kasih sayang Anda kepadanya. dengan dia merasa nyaman (senang) dengan kasih sayang Anda, tubuhnya akan lebih mudah “mengobati dirinya sendiri”.

Bila Demam Tinggi Tidak disertai Gejala Lain.
Justru yang paling dikhawatirkan adalah jika demam ini tidak disertai dengan gejala lain, misal batuk dan pilek, karena jika tidak disertai gejala lain, bisa saja anak mengalami infeksi otak atau infeksi lain.

Selain itu, orang tua juga harus peka terhadap lingkungan, misalnya jika si kecil mengalami demam pada saat lingkungan musim demam berdarah, maka wajib khawatir dan memeriksakan si kecil ke dokter anak, karena ditakutkan si kecill mengalami demam berdarah.

Semoga selalu sehat dan berkah

Semoga bermanfaat


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Seorang anak memiliki daya serap yang tinggi terhadap lingkungan di sekitar. Karena itu, setiap orangtua ataupun orang dewasa yang berada di sekitarnya harus sangat berhati-hati dalam bersikap dan berkata-kata kepada sang buah hati.

Berikut adalah ucapan-ucapan yang sebaiknya tidak dilontarkan kepada anak-anak kita.

1) "Pergi sana! Bapak/Ibu mau sendiri!"
Kalimat semacam ini tidak jarang dilontarkan oleh orangtua yang merasa sudah keletihan sehabis pulang kerja. Namun ketika kata-kata ini kerap diucapkan pada anak, si anak akan berpikir bahwa tidak ada gunanya berbicara dengan orangtuanya karena mereka akan selalu diusir. Ucapan ini akan disimpan dalam memori si anak dan nantinya bisa ditiru olehnya ketika sudah dewasa.

2) "Anak saya..."
Ketika orangtua menyebut, "Anak saya itu penakut", si anak akan menelan mentah-mentah sebutan itu tanpa bertanya apa pun. Pelabelan buruk semacam ini pada anak-anak akan melekat dalam benak mereka seumur hidup. Dan pada akhirnya label tersebut perlahan-lahan akan membentuk pribadi si anak sesuai dengan label itu.

3) "Jangan menangis"
Kata-kata ini mirip dengan, "Jangan cengeng" atau "Nangis melulu". Bila anak-anak dilarang untuk menangis, hal ini akan memberi kesan bahwa emosi mereka tidak benar, bahwa tidak baik untuk merasa takut atau sedih. Padahal seorang anak belum mampu mengekspresikan emosinya melalui kata-kata, sehingga mereka hanya bisa menyalurkannya dengan cara menangis.

Mungkin sebaiknya kita sebagai orangtua mengatakan bahwa kita memahami perasaan sedih atau takut yang dialami si anak. Misalnya, "Ibu mengerti kamu takut masuk dalam kolam renang. Ibu janji tidak akan melepaskan kamu, Nak."

4) "Kenapa kamu tidak bisa seperti saudaramu?"
Jika diperhatikan dengan baik, banyak sekali orangtua yang membanding-bandingkan anaknya entah itu dengan saudara kandung si anak itu sendiri atau juga teman-temannya. Tapi mungkin para orangtua perlu menyadari bahwa setiap anak adalah individu yang berbeda. Mereka tentunya memiliki kepribadian tersendiri. Membandingkan anak dengan orang lain berarti orangtua menginginkan si anak menjadi pribadi yang berbeda.

Semoga bermanfaat

(Dari berbagai sumber)

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Klik gambar untuk memperbesar.

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Pasti semua pelajar pengen sukses atau lulus Ujian Nasional baik yang SD, MTS, SMP, SMA, maupun SMK,sebenarnya kelulusan itu mudah sekali dicapai atau kita raih dengan bersungguh-sungguh belajarnya.

Pada kesempatan ini, kami ingin berbagi tips sukses menghadapi Ujian Nasional (UN) yang mudah-mudahan berguna:

1. Berdoalah kepada Tuhan  & Mohon Restu kepada Orang Tua

Manusia hanya bisa merencanakan, Tuhanlah yang menentukan. Manusia tidak berdaya tanpa pertolongan-Nya. Setiap keberhasilan ada keikutsertaan Sang Pencipta di dalamnya. Oleh karena itu berdo’alah agar diberi kemudahan dalam menghadapi UN. Selain itu, jadikan UN sebagai ajang untuk mempersembahkan yang terbaik kepada kedua orang tua tercinta. Oleh karena itu, mintalah restu kepada orang tua sebelum UN agar diberikan kemudahan dan kelancaran.

2. Belajar Lebih Giat
Menjelang Ujian Nasional, harus belajar ekstra ketat. Hal ini mengingatkan materi pelajaran relatif lebih banyak, mulai materi pelajaran kelas I. Cara belajar yang bisa dilakukan, misalnya membaca materi pelajaran sesuai dengan jadwal belajar harian atau membaca buku yang ada di Perpustakaan. Untuk mendapat gambaran bentuk dan materi yang keluar dalam Ujian Nasional, dapat melihat soal-soal Ujian Nasional tahun yang lalu. Soal-soal tersebut berfungsi sebagai latihan mengerjakan atau menjawab soal-soal Ujian Nasional yang akan datang.

3. Perbanyak Latihan Soal
Berlatih mengerjakan soal akan membuat kita akan terbiasa menghadapi beragam soal. Dengan sering berlatih, penguasaan anda terhadap materi semakin baik. Kita tidak akan cemas atau grogi dalam menghadapi soal Ujian Nasional.

4. Belajar Kelompok
Belajar kelompok bermanfaat untuk membahas, mendiskusikan materi pelajaran yang dianggap sulit. Melalui diskusi, kita akan saling tukar informasi, saling menguatkan motivasi belajar, mengeluarkan pendapat dan berbagai pengalaman. Anggota kelompok bisa 5 atau 7 orang sesuai dengan kebutuhan. Apabila materi pelajaran yang tidak dapat dipecahkan oleh kelompok, kita dapat menanyakan langsung kepada guru bidang studi (mata pelajaran).

5. Hindari Belajar Sistem Kebut Semalam
Belajarlah jauh-jauh hari sebelum hari UN tiba. Jangan menggunakan sistem kebut semalam yaitu belajar keras saat Ujian Nasional sudah dekat. Justru pada hari-hari mendekati Ujian Nasional, badan dan pikiran harus rileks.

6. Menjaga Kesehatan
Kita hendaknya selalu menjaga kesehatan, sehingga pada saat Ujian Nasional dalam kondisi fit, segar dan sehat. Jadi, walaupun materi pelajaran banyak yang harus dihafal dan dipelajari, jangan sampai mengabaikan/kurang memperhatikan kesehatan badan. Hendaknya cukup tidur dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Tak lupa olahraga yang teratur.

7. Menenangkan Hati dan Pikiran
Kesiapan dalam pemahaman materi pelajaran perlu didukung oleh ketenangan hati dan pikiran. Dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih, maka masa ujian akan dilalui dengan riang gembira dan bersemangat. Untuk itu, apabila memiliki masalah segeralah selesaikan denga baik. Disamping itu, jangan banyak pikiran yang bukan-bukan misalnya merasa khawatir tidak lulus ujian, bingung memilih jurusan di perguruan tinggi atau masa depan yang suram.

8. Hindari Kegiatan yang Bisa mengganggu Konsentrasi Belajar
Untuk sementara hindari dulu kegiatan/kesenangan/hoby yang bisa mengganggu konsentrasi belajar seperti bermain play station, internettan, dan menonton tv.